Tanda-Tanda Pewaris Surga (Inti sari Surat Al Mu’minun ayat 1-11)

July 18, 2008

1. Orang yang Beriman.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (QS. Al Mu’minun : 1)

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam Surga-Surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (Al Baqarah (Sapi betina) : 25)

Siapa yang tidak mau, jika beriman balasannya adalah surga? Setiap muslim itu pasti menginginkan derajat yang lebih tinggi dan surga bagi kehidupannya kelak di akhirat. Tapi satu pertanyaan untuk kita, apakah sudah kita beriman kepada Allah dengan sebenar-benar iman yang kita punya? Iman di hati, mulut, dan perbuatan kita?

2. Orang yang Khusyuk dalam Bersembahyang

“(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya” (QS. Al Mu’minun : 2)

Seorang muslim itu harus tahu apa sebenarnya esensi yang terkandung dalam setiap gerakan shalat. Sering kita merasa lega setelah kita usai melaksanakan aktivitas shalat. Tapi apakah kita pernah berpikir, sudah benarkah shalat kita? Mungkin banyak dari kita yang ketika shalat masih memikirkan hal-hal lain yang bersifat keduniawian. Lalu, khusyuk-kah shalat kita? Mari kita bersama-sama meluruskan niat kita dalam melaksanakan shalat.

3. Orang yang Jauh dari Perkara yang Tiada Guna

“dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al Mu’minun : 3)

Orang yang hidupnya selalu dipenuhi dengan aktivitas ukhrawi akan rindu sekali dengan akhirat. Dia senantiasa melakukan hal-hal yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya maupun orang lain. Sudahkah kita menyadari aktivitas seperti apa yang sudah kita jalani sebagai rutinitas kita sehari-hari? Apakah rutinitas yang membawa keberkahan bagi kita atau justru mengandung kemudharatan bagi hidup kita?

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Qs. Al Kahfi : 104).

Banyak dari kita menyangka bahwa kegiatan yang sudah kita lakukan setiap harinya adalah baik, tapi belum tentu bagi Allah. Maka dari itu, sebelum kita melakukan segala aktivitas, renungkanlah hal tersebut. Agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi.

4. Orang yang Menunaikan Zakat

“dan orang-orang yang menunaikan zakat” (QS. Al Mu’minun : 4)

Orang yang mampu dalam segi ekonomi kehidupannya, wajib membantu dan menyisihkan sebagian hartanya bagi mereka yang kurang mampu. Salah satunya adalah zakat. Zakat wajib hukumnya bagi orang-orang yang dilebihkan hartanya oleh Allah.

“….Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat” (QS. Fushshilat : 6-7)

Zakat itu kedudukannya adalah kedua setelah shalat. Banyak dari ayat Al-Qur’an yang menyebutkan zakat setelah kata shalat. Bisa diartikan bahwa shalat dan zakat itu saling mengisi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

5. Orang yang Menjaga Kemaluannya

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya” (QS. Al Mu’minun : 5)

Banyak wanita yang beralasan, karena faktor ekonomi-lah mereka akhirnya menjadi wanita penghibur. Dan tak sedikit pula para lelaki yang karena alasan bosan dengan sang istri akhirnya mencari wanita lain. Sungguh amat disayangkan apabila mereka beralasan seperti itu. Seharusnya mereka sadar bahwa segala sesuatunya itu datang dari Allah. Maka sepatutnya-lah mereka takut pada Allah apabila melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan perintah-Nya.

6. Orang yang Penuhi Janjinya

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. Al Mu’minun : 8)

Janganlah pernah berjanji kalau dirasa kita tidak bisa memenuhi janji itu. Ucapkanlah Insya Allah dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatunya itu datangnya hanya dari Allah. Kalau Allah mengizinkan, maka kita akan bisa memenuhi janji itu. Tapi jika Allah belum berkehendak, maka kita tidak bisa berbuat apa-apa.

7. Orang yang Memelihara Sembahyang-nya

“dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya” (QS. Al Mu’minun : 9)

Shalat memang rukun Islam yang kedua, tapi kita juga harus tahu dasar-dasar apa yang mengaharuskan kita shalat. Apakah hanya untuk menggugurkan kewajiban saja? Jawabannya pasti tidak. Kita harus tanamkan dalam hati bahwa kita butuh shalat sebagai salah satu cara kita berkomunikasi dengan Allah. Shalat adalah tiang agama. Tanpa shalat, seseorang belum bisa dikatakan mukmin. Bukankah shalat adalah amalan yang dihisab pertama kali di akhirat nanti? Dan bukankah shalat juga yang membedakan antara orang mukmin dengan orang nasrani?

Di ayat selanjutnya, Allah swt menerangkan,

“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya” (QS. Al Mu’minun : 10-11)

Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang selalu mau terus belajar dan memperbaiki diri. Dan semoga kita menjadi insan yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya agar kelak bisa meraih syurga Firdaus-Nya dan kekal di dalamnya.

Muudah-mudahan ketujuh tanda-tanda itu ada dalam diri kita masing-masing sehingga kita menjadi golongan yang dirindu syurga. Amin.

(Sarah)


Tips Sukses Dalam Presentasi

June 25, 2007

Imam Supriadi <hbi_supriadi@jkt.daimler-benz.com> di Milis Manajemen

Setiap orang ingin sukses dalam penjualan. Masalahnya hanya segelintir orang yang berhasil dalam presentasinya. Berikut ini adalah beberapa pokok pikiran dalam upaya membawakan presentasi Anda sebaik mungkin di hadapan PROSPEK.

KEMAMPUAN ANDA DALAM BERBICARA
Anda mungkin memiliki gagasan yang cemerlang, tetapi siapa yang akan tahu jika Anda tidak dapat mengungkapkannya?? Buatlah kelompok berbicara bersama rekan penjual yang lain untuk tempat berlatih Anda.

KEMAMPUAN ANDA DALAM MENDENGAR
Mendengar, meskipun jarang terpikir dan kurang sekali dilatih, merupakan kunci dalam berkomunikasi dan dapat membuat orang lain merasa dirinya istimewa dihadapan Anda.

PESAN TERSEMBUNYI DARI ANDA
Tanpa sadar Anda sebenarnya mengirim sinyal atau tanda kepada orang lain. Mungkin Anda menatap mata mereka, atau mungkin Anda menatap sepatu Anda sewaktu Anda berbicara. Mungkin Anda membungkukkan atau menurunkan bahu Anda, atau mungkin Anda berdiri tegak dan penuh percaya diri. Anda mungkin tersenyum secara wajar atau menjabat tangan erat-erat, atau Anda mungkin berpakaian yang tidak mencerminkan pribadi Anda. Semua pesan tersembunyi ini membentuk citra Anda.

BAKAT PERSUASIF ANDA
Seberapa hebat keahlian Anda dalam memotivasi orang lain untuk mengikuti pimpinan Anda?? Gagasan apapun, betapapun hebatnya, tidak akan membawa hasil jika tidak diterapkan.

BAGAIMANA ANDA MEMANFAATKAN RUANG DAN WAKTU
Meskipun seringkali diabaikan, pemanfaatan ruang dan teritori sementara dapat menciptakan atau meretakkan hubungan. Jangan terlalu rapat jaraknya, dan singkat-singkat saja bicaranya

KEMAMPUAN ANDA DALAM MENYESUAIKAN DIRI DENGAN ORANG LAIN
Membangun hubungan berarti memahami kepribadian orang lain, kemudian menyesuaikan perilaku Anda untuk meningkatkan kesesuaian. Ciptakan keselarasan -namun ingat, jangan bercermin pada orang lain

VISI ANDA, GAGASAN ANDA
Terlepas dari seberapa hebat dan persuasifnya Anda selaku penyaji, betapa mahirnya Anda dalam berhubungan dengan orang lain, seberapa baiknya Anda dalam mendengar, memanfaatkan ruang dan waktu, atau mengirim sinyal atau tanda secara diam-diam, Anda tetap harus memiliki sesuatu yang bernilai untuk disampaikan !!! Siapkan Materi Presentasi Anda Dengan Baik.


Tips Karir : Pilih PINTU yang BERBEDA …

June 25, 2007

Jika anda merasa belum puas dengan apa yang telah anda capai selama ini, pikirkanlah cara lain untuk memutar haluan …

Kisah ini mengenai seorang Manajer berusia separoh baya, yang saat itu sedang pusing memikirkan hutang-hutang yang harus dilunasinya. Karena itulah dia memutuskan untuk menghubungi seorang konsultan ahli keuangan dan memakai jasanya untuk menyelesaikan kasus yang sedang dihadapinya ini.

Untuk itu, sang Manajer membuat janji untuk bertemu dengan sang penasehat keuangan tadi di kantor si penasehat keuangan, di sebuah gedung perkantoran yang mewah di Park Avenue.

Pada hari yang telah ditentukan, sang Manajer memasuki ruang tunggu kantor penasehat keuangan. Anehnya, pada waktu memasuki ruangan itu ia tidak disambut seorang resepsionis seperti pada umumnya. Dihadapannya malahan ada dua buah pintu. Di depan pintu pertama tertulis: Bekerja Untuk Orang Lain, sedangkan di pintu yang kedua tertulis: Bekerja Independen

Iapun memasuki pintu yang bertuliskan. Bekerja untuk orang Lain. Tetapi, ketika ia memasuki ruangan tersebut, sekali lagi ia dihadapkan pada dua buah pintu. Yang satu bertuliskan: Berpenghasilan kurang dari $40.000/tahun, dan yang kedua bertuliskan: Berpenghasilan lebih dari $40.000/tahun.

Menyadari penghasilannya kurang dari $40.000, ia pun memasuki pintu yang bertuliskan Berpenghasilan kurang dari $40.000/tahun. Disini, ia dihadapkan kembali pada dua buah pintu. Di pintu sebelah kiri tertulis: Menabung lebih dari $2.000 /tahun sedangkan di pintu sebelah kanan tertulis: Menabung kurang dari $2.000/tahun

Berhubung si Manajer hanya memiliki tabungan tidak lebih dari $1.000, ia pun memasuki pintu yang sebelah kanan tadi. Tetapi, ketika ia memasuki pintu tersebut, ternyata ia malah kembali lagi ke Park Avenue !

PINTU YANG SAMA AKAN MEMBAWA ANDA KEPADA HASIL YANG SAMA PULA !

Manajer di dalam cerita tadi jelas tidak akan pernah bisa keluar dari masalahnya, selama ia enggan mencoba masuk melalui pintu lainnya. Pelajaran moral yang bisa kita peroleh dari cerita tersebut adalah, bahwa pada kenyataannya memang kebanyakan orang bersikap dan bertindak seperti manajer tadi. Kebanyakan orang selalu memilih untuk memasuki pintu kehidupan yang nantinya justru akan membawa mereka ke titik dari mana mereka memulai sebelumnya.

Karena itu, satu-satunya cara agar ia bisa memperoleh hasil yang berbeda adalah dengan bertekad untuk mencoba memasuki pintu yang berbeda pula.

Sebagaimana sering dinasehatkan oleh para orang sukses, Jika anda terus saja melakukan hal-hal yang selama ini anda biasa lakukan, maka anda juga akan terus mendapatkan hasil yang sama dengan yang selama ini anda dapatkan.


Berkomunikasi Efektif

June 19, 2007

Dalam organisasi, kita harus melakukan komunikasi dengan berbagai orang. Untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, Anda perlu gaya tersendiri sebagai seorang yang profesional dalam pekerjaan. Berikut ini ada beberapa tips.

- Latih diri Anda untuk tidak gugup bila berbicara dengan orang lain. Ini perlu banyak latihan, misalnya dengan menjadi anggota klub para bos atau sering berhubungan dengan mereka, Anda akan mulai merasa familiar dan tidak takut salah. Kepercayaan diri atau “keamanan” inilah yang menyebabkan Anda tidak mudah gugup. Sebagai test, cobalah sering bercanda dan beradu pendapat dengan kelompok teman. Kalau Anda mampu mengatasi berbagai ejekan dan gurauan teman, artinya Anda tidak akan mudah gugup dalam berbicara.

- Pilihlah kalimat seefektif mungkin. Jika bicara dengan bos, gunakan kalimat langsung pada sasaran pembicaraan. Beri pengantar sedikit tentang jalan ceritanya, lalu to the point pada laporan Anda. Hindari cerita yang tidak perlu. Berhati-hati jika menceritakan hal-hal pribadi yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Begitu lawan bicara Anda paham maksud Anda, jangan mengulang-ulang isi pembicaraan. Lanjutkan pembicaraan, atau hentikan pembicaraan supaya tidak membuang waktu orang lain.

- Sebisa mungkin, gunakan gaya serius dalam membicarakan pekerjaan. Konsentrasi pada apa yang Anda bicarakan dan tidak melantur kemana-mana. Tunjukkan sikap yang menunjukkan keseriusan Anda. Keseriusan Anda akan ditopang oleh persiapan sebelumnya. Jika Anda telah siap dengan berbagai data dan informasi yang relevan, maka Anda akan siap untuk bicara serius.

- Gunakan humor seperlunya jika diperlukan untuk mencairkan suasana, dan jangan berusaha membuat orang lain untuk tertawa. Jika orang lain tidak tertawa, lanjutkan saja pembicaraan.

- Sikap Anda menentukan kesan lawan bicara Anda. Gunakan sikap santai tetapi tetap berkonsentrasi pada pembicaraan. Ada beberapa gaya khas, misalnya duduk menaruh kedua tangan diatas meja dan bicara, melipat tangan, memegang buku, sesekali menopang dagu, dll. Anda bisa mempelajari berbagai gaya ini dengan melihat orang lain dan menirunya.

- Tempo bicara juga menentukan. Jangan berbicara terlalu lambat. Ungkapkan dengan optimis dan PeDe dengan kecepatan normal. Hindari menggumam dalam mengatakan sesuatu.


Tafsir Ayat Kursi: Memahami Keagungan Kursi Allah

June 19, 2007

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk)Nya, tidak mengantuk dan tidak pula tidur. MilikNya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizinNya. Allah Mengetahui apa-apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah luasnya meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan adalah Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung”.

Ayat di atas yang masyhur dengan nama ayat kursi terdapat di dalam surah Al-Baqarah ayat 255. Penamaan ayat ini bukan ijtihad para ulama, tetapi Rasulullah sendiri yang menamakannya. Tersebut dalam salah satu riwayat bahwa ketika Rasulullah saw ditanya oleh salah seorang sahabatnya tentang “ayat apa yang paling agung dari kitabullah?” Beliau menjawab, “Ayat Kursi”, kemudian Rasulullah membaca ayat ini. (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i). Dan memang, kata ”kursi” sendiri terdapat di dalam ayat ini yang menjadi salah satu argumen penamaan ayat ini seperti juga penamaan surah-surah Al-Qur’an yang lain.

Ayat kursi sangat kental dengan nuansa akidah, terutama akidah kepada Allah swt, yaitu akidah akan sifat-sifat Allah yang berbeda dengan sifat seluruh makhlukNya. Kejelasan akan sifat-sifat Allah sangatlah penting untuk menghindari dominasi khurafat, mitos dan syubhat yang kerap kali menutupi hati dan pandangan manusia. Justru Islam datang untuk menyelamatkan dan membersihkan hati manusia dari timbunan kotoran yang demikian berat, serta dari kesesatan dan kebingungan dalam kegelapan. Sehingga secara korelatif dijelaskan pada ayat setelahnya: ”Tidak ada paksaan dalam beragama”, bahwa akidah yang dibawa oleh Islam adalah akidah yang berdasarkan kerelaan hati setelah mendapat keterangan dan penjelasan yang terang benderang, bukan berdasarkan pemaksaan dan tekanan.

Menurut Ibnu Athiyah, yang dimaksud dengan kursi, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, adalah makhluk Allah yang agung yang berada di antara Arsy Allah swt, sedangkan Arsy Allah tentunya lebih besar berbanding kursiNya. Perbandingan antara keduanya seperti yang dituturkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Abu Dzar, “Bukanlah kursi Allah yang berada di Arsy Allah itu melainkan hanya seperti sebuah lingkaran besi yang dilemparkan di salah satu penjuru bumi”.

Penyebutan kata “kursi” yang secara fisik inderawi bisa digambarkan layaknya kursi tempat duduk manusia, begitu juga ungkapan ”dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya” sememangnya menurut Sayyid Qutb adalah untuk memudahkan manusia memahami dan menggambarkan keagungan dan luasnya kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi, “Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. Ungkapan dalam kalimat deskripsi inderawi seperti ini akan memberikan kesan yang kuat dan mendalam serta mantap di dalam hati mengenai hakikat yang dimaksud.

Berdasarkan analisa bahasa yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari bahwa penyebutan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam ayat kursi ternyata tidak menggunakan kata penghubung (wau athaf) yang biasa digunakan dalam susunan kalimat bahasa Arab untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata lainnya. Redaksi yang demikian ini menunjukkan kekuatan bayan (penjelasan) pada seluruh sifat-sifat Allah swt yang tersebut dalam ayat ini. Paling tidak terdapat empat penjelasan tentang sifat-sifat Allah dalam ayat kursi, yaitu: pertama, penjelasan akan keesaan Allah dalam mengatur seluruh makhlukNya. Kedua, penjelasan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh makhluk yang diaturNya. Ketiga, penjelasan akan luasnya ilmu Allah yang mencakup seluruh makhlukNya, sampai kepada mereka yang diridhoi dan berhak mendapat syafa’atNya dengan mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Dan keempat, penjelasan tentang pengetahuan Allah akan seluruh maklumat yang tersebar di langit dan bumi.

Wajar jika Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an (A’dlomu ayatin fil Qur’an) dan memiliki kedudukan dan keutamaan yang banyak. Di antara keutamaan ayat kursi seperti yang ditegaskan dalam beberapa hadits Rasulullah diantaranya: pertama, ayat kursi merupakan pelindung dan benteng dari godaan syetan. Kedua, nilai ayat kursi setara dan sebanding dengan seperempat Al-Qur’an.

Sebuah kisah yang diutarakan oleh ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab menjadi bukti nyata akan keampuhan ayat kursi sebagai pelindung. Ia menceritakan bahwa pada suatu malam ketika melihat-lihat kebun kurma miliknya, tiba-tiba ia terserempak dengan seekor hewan yang mirip dengan seorang anak yang baru menginjak usia baligh. Maka ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh anak itu. Kemudian dengan nada penasaran ia bertanya, “Siapakah kamu? Apakah kamu dari golongan jin atau manusia?”. Dengan singkat anak itu menjawab, “Dari golongan jin”. Akhirnya ia meminta jin itu untuk mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Ternyata ketika disentuh, tangannya seperti tangan anjing dan juga bulunya. Maka aku bertanya, “Apakah demikian jin diciptakan?”. Jin itu menjawab, “Bahkan ada yang lebih hebat dari ini”. “Apakah yang mengundang kamu datang kemari?”. Ayah Abdullah bin Ubay kembali bertanya. “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sangat dermawan. Aku ingin mendapatkan sedekahmu”. “Jika memang demikian, aku ingin bertanya, apa yang dapat melindungi kami dari godaanmu?”. Pinta Abdullah bin Ubay. Dengan tegas, jin itu menjawab, “Ayat kursi”. Keesokan harinya, Ayah Abdullah bin Ubay menceritakan kepada Rasulullah apa yang dialaminya tadi malam. Maka Rasulullah bersabda, “Apa yang dikatakan oleh jin itu benar, tetapi dia tetap makhluk yang kotor”. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dijelaskan kedudukan ayat kursi yang senilai dengan seperempat Al-Qur’an. Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada salah seorang sahabatnya, “Wahai fulan, sudahkan kamu menikah?”. Sahabat itu menjawab, “Saya tidak memiliki apapun untuk menikah”. Rasulullah bertanya kembali, “Bukankah bersama engkau (hafal) Al-Ikhlash?”. Ia menjawab, “Benar wahai Rasulullah”. Rasulullah menjelaskan, “Ia sebanding dengan seperempat Al-Qur’an”. Rasulullah terus bertanya pertanyaan yang sama sampai terakhir Rasulullah bertanya, “Bukankah bersama engkau (hafal) ayat kursi?”. Ia menjawab, “Benar ya Rasulullah”. Maka Rasulullah bersabda, “Ia senilai dengan seperempat Al-Qur’an”.

Keagungan ayat kursi semakin jelas karena ayat ini secara terperinci mengandungi penjelasan akan sifat-sifat dzat Allah swt; dari sifat Wahdaniyah yang dinyatakan oleh Allahu La Ilaha Illah Huwa”, Sifat Maha Hidup yang berkekalan (Al-Hayyu), sifat Maha Kuasa dan berdiri sendiri (Al-Qayyum), bahkan sifat Qayyum Allah diperkuat dengan penafian akan segala yang mengarah kepada kelemahan, seperti “Tidak mengantuk dan tidak tidur”. Begitu juga dengan sifat memiliki yang berkuasa untuk melakukan apa saja terhadap makhluk yang dimilikiNya. Sifat iradah (berkehendak) yang ditunjukkan oleh kalimat “mandzalladzi yasyfa’u…”, dan iradah Allah di sini adalah pada urusan yang paling besar, yaitu syafa’at yang tidak dimiliki oleh siapapun kecuali atas izin Allah swt. Juga sifat “Ilm yang dinyatakan oleh “ya’lamu ma baina…..”. Terakhir sifat-sifat dzatiyyah Allah ditutup dengan sifat yang menunjukkan ketinggian dan keagunganNya, “Wahuwal Aliyyul Adzim”. Ibnu Abbas menuturkan, “Yang sempurna dalam ketinggian dan keagunganNya”.

Inilah sifat penutup bagi ayat kursi untuk menetapkan ke-Esa-an Allah pada kebesaran dan ketinggianNya. Alif Lam Ma’rifah yang digunakan dalam kedua sifat terakhir ”Al-Aliyyu Al-Adzimu” sesungguhnya untuk membatasi sifat itu hanya milik Allah Yang Maha Suci, tanpa ada yang bersekutu denganNya. Bahkan tidak ada seorang hamba pun yang berusaha mencapai posisi kebesaran dan ketinggian seperti ini melainkan Allah akan mengembalikannya kepada kehinaan dan kerendahan di akhirat kelak Allah swt berfirman, ”Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi..” (Al-Qashash: 83)

Demikianlah ayat kursi hendaknya dijadikan prinsip dan acuan dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan seluruh makhlukNya. Hanya Allah Pemilik segala sifat kesempurnaan, sedangkan manusia tidak layak memakai pakaian kebesaran Allah. Keyakinan yang mendalam akan seluruh sifat-sifat Allah akan mampu melahirkan perasaan khauf (takut) akan murka dan azab Allah jika kita melanggar aturanNya. Begitu juga akan mampu melahirkan sifat raja’ (penuh harap) kepada kasih sayang dan rahmat Allah swt.


Bahaya Menghasut

June 19, 2007

Oleh Fajar Kurnianto

Dalam karyanya, Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Sa’id Hawwa menceritakan seseorang yang meminta 700 ketenangan dalam tujuh kalimat yang dapat ia amalkan sehari-hari kepada ulama.

”Wahai orang bijak, sesungguhnya saya datang untuk mendapatkan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Beritahukan kepada saya tentang langit dan apa yang lebih berat darinya. Tentang bumi dan apa yang lebih luas darinya. Tentang batu karang dan apa yang lebih keras darinya. Tentang api dan apa yang lebih panas darinya. Tentang salju dan apa yang lebih dingin darinya. Tentang lautan dan apa yang lebih kaya darinya. Orang miskin papa dan apa yang lebih hina darinya.”

Orang bijak menjawab, ”Ketahuilah, sesungguhnya, berdusta atas orang tidak bersalah lebih berat dari segenap langit. Kebenaran lebih luas dari bumi. Hati yang menerima (lapang dada dan ikhlas) lebih kaya dari lautan. Ketamakan dan kedengkian lebih panas dari api. Kebutuhan akan kerabat bila tidak berhasil lebih dingin dari salju. Hati orang kafir lebih keras dari batu. Penghasut bila terbongkar perkaranya lebih hina dari orang miskin papa.”

Menghasut, mengadu domba, atau memprovokasi, dalam bahasa agama disebut namimah. ”Sesungguhnya, orang-orang yang suka menghasut tidak akan masuk surga.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hakikat namimah, kata Sa’id Hawwa ialah menyebarkan rahasia dan merusak tabir. Tidak seharusnya setiap keadaan yang tak disukai disampaikan ke orang lain, kecuali jika ditujukan untuk kemaslahatan kaum Muslim atau menolak kemaksiatan, seperti kesaksian di pengadilan.

Selain ancaman tidak masuk surga, penghasut dikecam sebagai manusia paling buruk perilakunya. ”Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang paling buruk perilakunya di antara kalian? Yaitu, orang yang berjalan di atas muka bumi seraya menghasut, yang merusak di antara orang-orang yang tadinya saling mencintai, dan hanya ingin membeberkan aib orang-orang yang tidak bersalah.” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Menghasut sangat berbahaya jika dilestarikan dalam kehidupan sosial. Pertama, munculnya benih saling mencurigai di antara sesama. Kedua, jatuhnya nama baik dan martabat seseorang. Ketiga, terciptanya kekacauan, ketakstabilan, dan ketidakharmonisan dalam hubungan sosial.

Rasulullah SAW mengecam orang-orang munafik di Madinah karena perilaku kotornya yang suka menghasut saat beliau berhijrah. Kebiasaan menghasut sepertinya sudah menjalar dan meluas di negeri kita saat ini. Konflik menjadi bukti nyata ciptaan para penghasut. Bila kita menginginkan konflik tidak bertambah, kebiasaan buruk itu harus ditinggalkan. (bps)


Ikhlas Dalam Beramal

June 19, 2007

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Ditulis Untuk Harian Waspada

Semoga Allah mengaruniakan kita hati yang ikhlas, karena walau menghabiskan tenaga, terkuras pikiran kalau tidak ikhlas tidak ada nilainya disisi Allah. Sungguh suatu keberuntungan yang besar bagi yang ikhlas. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikan adalah sama.

Berbeda dengan yang kurang ikhlas, ibadahnya justru lebih bagus dilakukan ketika ada orang lain yang memperhatikan. Lalu seperti apakah tanda-tanda orang yang ikhlas itu?

Pertama, Ia tidak mencari popularitas dan tidak menonjolkan diri. Karena ia sadar, sehebat apapun ketenaran disisi manusia tiada berarti di hadapan Allah andaikata tidak memiliki keikhlasan. Seorang hamba ahli ikhlas tidak sibuk menonjolkan diri, menyebut-nyebut amalnya, memamerkan hartanya, keilmuannya, kedudukannya, dan aneka topeng duniawi lainnya. Karena itu tiada berguna kalau Allah menghinakannya

Kedua, Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian. Baginya pujian hanyalah sangkaan orang pada kita, padahal kita tahu keadaan diri kita yang sebenarnya. Bagi seorang yang ikhlas, dipuji, dihargai, tidak dipuji, bahkan dicaci sama saja. Karena baginya pujian dari Allah-lah yang terpenting. Allah-lah tujuan dari segala amalnya.

Ketiga, Tidak silau dan cinta jabatan. Allah tidak pernah menilai pangkat dan jabatan seseorang, namun yang dinilai adalah tanggung jawab terhadap amanah dari jabatannya. Maka hamba Allah yang ikhlas tidak bangga dan ujub karena jabatannya.

Keempat, Tidak dipebudak Imbalan dan balas budi. Seorang hamba ahli ikhlas sangat yakin kepada janji dan jaminan Allah, baginya mustahil Allah memungkiri janji-janji-Nya. Bagi seorang hamba yang ikhlas, rezekinya adalah ketika ia berbuat sesuatu bukan ketika mendapatkan sesuatu. Balasannya cukup dari Allah saja, yang pasti, tidak akan meleset, dan tidak akan salah perhitungan-Nya.

Kelima, Tidak mudah kecewa. Seorang yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik, lalu terjadi atau tidak yang ia niatkan itu, semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah SWT.

Keenam, Tidak Membedakan Amal Besar dan Amal Kecil. Seorang hamba yang ikhlas tidak peduli amal itu kecil dalam pandangan manusia atau tidak, ada yang menyaksikan atau tidak. Karena dihadapan Allah tidak ada satupun amal yang remeh andaikata dilakukan dengan tulus sepenuh hati karena Allah semata.

Ketujuh, Tidak fanatik golongan. Seorang muslim yang ikhlas sangat sadar bahwa tujuan dari perjuangan hidupnya adalah Allah SWT, maka yang akan dibela pun adalah kepentingan yang diridhoi oleh Allah. Tidak tegantung perasaan pribadi. Selama apa yang diperjuangkan adalah untuk membela agama Islam, maka ia pun akan turut membela.

Kedelapan, Ringan, lahab dan Nikmat dalam Beramal. Keikhlasan adalah buah keyakinan yang mendalam dari seorang hamba Allah sehingga perbuatan apapun yang disukai oleh Allah, dapat membuatnya bertambah dekat dengan Allah, akan menjadi program kesehariannya. Semua dilakukan dengan ringan, lahab, dan nikmat.

Kesembilan, Tidak egois karena selalu mementingkan kepentingan bersama. Orang yang ikhlas tidak pernah keberatan dengan keberadaan orang lain yang lebih pandai, lebih sholeh, lebih bermutu darinya. Meski menurut pandangan manusia ia akan tesaingi dengan keberadaan orang yang melebihi dirinya, namun orang yang ikhlas beramal bukan untuk mencari popularitas. Baginya yang terpenting adalah maju bersama demi kepentingan bersama.

Kesepuluh, Tidak Membeda-bedakan dalam pergaulan. Seorang yang ikhlas tidak akan membeda-bedakan teman. Tegur sapanya tidak akan terbatas pada orang tertentu, senyumnya tidak akan terbatas pada yang dikenalnya, dan pintunya selalu terbuka untuk siapa saja.

Subhanallah, demikian luhurnya tanda-tanda seorang hamba yang ikhlas. pakah tanda-tanda tesebut ada dalam diri kita ? Bersyukurlah bagi hamba ang dalam dirinya telah dilingkupi tanda-tanda keikhlasan. Wallahu a’lam bish showab